Ya Allah, jadikanlah anakku 'Afifah Tahhirah As Sundus, Muhammad Sayyid Al Fattah, dan Muhammad Ayyasy Al Ghaniy, anak yang siddiq, amanah, fathonah, dan tabligh, amiin

MODEL PEMBELAJARAN SOSIAL



 Pendahuluan
 
Dalam proses pembelajaran, guru dan peserta didik sering dihadapkan pada berbagai masalah, baik yang berkaitan dengan mata pelajaran maupun yang menyangkut hubungan sosial. Pemecahan masalah pembelajaran dapat dilakukan melalui berbagai cara, melalui diskusi kelas, tanya jawab antara guru dan peserta didik, penemuan dan inkuiri. Konsep yang dipakai sebagai upaya pemecahan permasalahan itulah yang dimaksud dengan model pembelajaran.
Model Pembelajaran adalah an instructional model is a step-by-step procedure that leads to specific learning outcomes.[1](model pembelajaran adalah prosedur langkah-demi-langkah yang mengarah ke hasil belajar yang spesifik). Joyce & Weil (1980) mendefinisikan model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran. Dengan demikian, model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Jadi model pembelajaran cenderung preskriptif (dalam mencapai tujuan), yang relatif sulit dibedakan dengan strategi pembelajaran.[2] Dan strategi pembelajaran adalah An instructional strategy is a method for delivering instruction that is intended to help students achieve a learning objective.[3]( Strategi pembelajaran adalah metode untuk memberikan instruksi yang dimaksudkan untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran). Memahami beberapa pernyataan di atas betapa perlu dan penting model pembelajaran dihadirkan dalam proses pembelajaran agar situasi dan kondisi pemebelajaran menjadi baik dan terarah.
Banyak model pembelajaran yang dapat dipakai oleh seorang guru untuk menunjang kegiatan pembelajaran untuk menjadi lebih baik, dan jika seorang guru dapat memanfaatkan media, sumber atau literatur tentang permodelan dalam pembelajaran tersebut, maka guru akan menjadi profesional dalam menjalankan tugasnya. Satu contoh model yang dapat digunakan adalah model pembelajaran sosial. Mengapa dikatakan model pembelajaran sosial? “Karena pendekatan pembelajaran yang termasuk dalam kategori model ini menekankan hubungan individu dengan masyarakat atau orang lain. Model-model dalam kategori ini difokuskan pada peningkatan kemampuan individu dalam berhubungan dengan orang lain, terlibat dalam proses demokratis dan bekerja secara produktif dalam masyarakat”.[4] Dengan demikian siswa dalam proses belajar akan memasuki nuansa sebenarnya dimana problem sosial yang mungkin saja dihadapinya setiap hari. Dalam proses pembelajaran itu siswa mencoba mengatasi sendiri permasalahan-permasalahannya dengan baik.
Satu sisi dari eksistensi manusia itu adalah sebagai makhluk sosial, maka menjadi sangat penting bila anak-anak itu diajarkan sedini mungkin pada pola kehidupan sosial. Bahkan Elizabeth B. Hurlock mengungkapkan bahwa “ karena pola perilaku sosial atau perilaku yang tidak sosial dibina pada masa kanak-kanak awal atau masa pembentukan, maka pengalaman sosial itu sangat menentukan kepribadian setelah anak menjadi dewasa”[5]. Untuk itu model pembelajaran sosial ini menitik beratkan terhadap tingkah laku anak pada peran, simulasi dan tanggap serta dapat mengatasi problem-problem sosial yang dialami anak dengan baik.
Untuk lebih jelas tentang apa sajakah yang tergolong dalam model pembelajaran sosial ini, penulis akan merujuk pada konsep Hamzah B. Uno dalam bukunya model pembelajaran, beliau membaginya menjadi 3 model pembelajaran sosial, yaitu (1) model pembelajaran bermain peran, (2) model pembelajaran simulasi sosial dan (3) model pembelajaran telaah kajian yurisprudensi[6]. Ketiga model inilah yang akan di bahas dalam makalah ini.
Rumusan Masalah
Dari uraian pendahuluan di atas, maka makalah tentang model pembelajaran sosial ini akan membahas tentang hal-hal sebagai berikut:
1.    Apa dan bagaimana proses pelaksanaaan model pembelajaran bermain peran?
2.    Apa dan bagaimana proses pelaksanaaan model pembelajaran simulasi sosial?
3.    Apa dan bagaimana proses pelaksanaaan model pembelajaran telaah yurisprudensi?

Pembahasan
Model Pembelajaran Bermain Peran
Pengertian

Bermain peran adalah sebagai suatu model pembelajaran bertujuan untuk membantu siswa menemukan makna diri (jati diri) di dunia sosial dan memecahkan dilema dengan bantuan kelompok. Artinya, melalui bermain peran siswa belajar menggunakan konsep peran, menyadari adanya peran-peran yang berbeda dan memikirkan prilaku dirinya dan prilaku orang lain.[7]
Model pembelajaran bermain peran merupakan puncak (klimaks) pada model pembelajaran berbicara. Artinya model pembelajaran ini sebagai tataran tertinggi dalam model pembelajaran berbicara. Jika dalam model pembelajaran lainya masih terdapat campur tangan guru, maka dalam bermain peran ini sudah hampir 100% murni dari inisiatif, spontanitas dan pemikiran peserta didik. Dalam praktiknya bermain peran ini menyerupai sandiwara atau drama, hanya saja dalam bentuk yang lebih kecil atau sederhana. Maka peserta didik akan memperoleh peran dan teks dialog yang harus dihafalkan untuk  ditampilkan di depan kelas.[8]
Chasler (1966) mengatakan, these parts people play are called roles. A role is "a patterned sequence of feelings, words, and actions.... It is a unique and accustomed manner of relating to others" [9] Bagian-bagian orang bermain disebut peran. Peran adalah "urutan bermotif perasaan, kata-kata, dan tindakan .... Ini adalah cara yang unik dan terbiasa berhubungan dengan orang lain. Jadi dalam model pembelajaran ini sangat ditekankan anak-anak untuk menggunakan perasaan dengan baik, kata-kata yang tegas dan yang lebih penting juga adalah penghayatan karakter tokoh yang diperankan, dengan tujuan menimbulkan tingkah laku yang sempurnah dalam action pemeran.
Terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermain peran untuk mengembangkan perilaku dan nilai-nilai social, yang kedudukannya sejajar dengan model-model mengajar lainnya. Keempat asumsi tersebut sebagai berikut:

1.      Secara implicit bermain peran mendukung suatu situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi “di sini pada saat ini”. Model ini percaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan untuk menciptakan analogy[10] mengenai situasi kehidupan nyata. Terhadap analogy yang diwujudkan dalam bermain peran, para peserta didik dapat menampilkan respons emosional sambil belajar dari respons orang lain.
2.                  Kedua, bermain peran memungkinkan para peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain. Mengungkapkan perasaan untuk mengurangi beban emosional merupakan tujuan utama dari psikodrama (jenis bermain peran yang lebih menekankan pada penyembuhan). Namun demikian, terdapat perbedaan penekanan antara bermain peran dalam konteks pembelajaran dengan psikodrama. Bermain peran dalam konteks pembelajaran memandang bahwa diskusi setelah pemeranan dan pemeranan itu sendiri merupakan kegiatan utama dan integral dari pembelajaran; sedangkan dalam psikodrama, pemeranan dan keterlibatan emosional pengamat itulah yang paling utama. Perbedaan lainnya, dalam psikodrama bobot emosional lebih ditonjolkan daripada bobot intelektual, sedangkan pada bermain peran peran keduanya memegang peranan yang sangat penting dalam pembelajaran.
3.       Model bermain peran berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan tidak selalu datang dari orang tertentu, tetapi bisa saja muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang sedang diperankan. Denagn demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Dengan demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Oleh sebab itu, model mengajar ini berusaha mengurangi peran guru yang teralu mendominasi pembelajaran dalam pendekatan tradisional. Model bermain peran mendorong peserta didik untuk turut aktif dalam pemecahan masalah sambil menyimak secara seksama bagaimana orang lain berbicara mengenai masalah yang sedang dihadapi.
4.        Model bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap, nilai, perasaan dan system keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan. Dengan demikian, para pserta didik dapat menguji sikap dan nilainya yang sesuai dengan orang lain, apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu dipertahankan atau diubah. Tanpa bantuan orang lain, para peserta didik sulit untuk menilai sikap dan nilai yang dimilikinya.[11]

Dari empat asumsi di atas terlihat dengan jelas dasar pembelajaran bermain peran itu adalah untuk mengembangkan prilaku dan nilai-nilai sosial. Materi pembelajaran yang diberikan disesuaikan dengan kehidupan kekinian para siswa, peserta didik dapat mengungkapkan perasaannya drngan orientasi kebaikan dan kegagalan dari individu lain, peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal, dan  para pserta didik dapat menguji sikap dan nilainya yang sesuai dengan orang lain, apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu dipertahankan atau diubah. Dasar-dasar ini yang membuat model bermain peran banyak disukai, baik oleh peserta didik maupun para pendidik itu sendiri. Model ini disamping pelaksanaannya sangat menyentuh sampai ke asfek keterampilan yang dimiliki siswa, model ini juga sangat mudah dan praktis dalam pelaksaannya, lebih praktisnya model ini dapat digunakan dimana saja terutama di alam terbuka adalah suatu tempat yang sangat baik dalam pelaksanaan pembelajaran dengan model bermain peran ini.
Selanjutnya dalam pelaksanaan proses model pembelajaran sosial ini keberhasilannya akan bergantung kepada kualitas dan keefektifan siswa dalam memainkan peranya, disamping itu perlu juga ditunjang oleh kualitas pemeranan, analisis dan diskusi serta pandangan peserta didik terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan situasi kehidupan yang nyata.
Shaftel (1967) mengungkapkan “In role playing, students explore human relations problems by enacting problem situations and then discussing the enactments.Together, students can explore feelings, attitudes, values, and problem-solving strategies.[12]. Dalam bermain peran, siswa mengeksplorasi masalah hubungan manusia dengan memberlakukan situasi masalah, kemudian mendiskusikan enactments (keadaan atau situasi atau hukum yang berlaku) secara bersama,  siswa dapat mengeksplorasi perasaan, sikap, nilai, dan strategi dalam pemecahan masalah. We have also incorporates ideas from the work of Mark Chesler and Robert Fox (Kami juga telah menggabungkan ide dari karya Mark Chesler dan Robert Fox).
Role playing as a model of teaching has roots in both the personal and social dimensions of education. It attempts to help individuals find personal meaning within their social worlds and to resolve personal dilemmas with the assistance of the social group. In the social dimension, it allows individuals to work together in analyzing social situations, especially interpersonal problems, and in developing decent and democratic ways of coping with these situations. We have placed role playing in the social family of models because the social group plays such an indispensable partin human development and because of the unique opportunity that role playing offers for resolving interpersonal and social dilemmas. Bermain peran sebagai model pembelajaran memiliki akar di kedua pribadi dan dimensi sosial pendidikan. Ia mencoba untuk membantu individu menemukan makna  pribadi dalam dunia sosial mereka dan untuk mengatasi dilema pribadi dengan bantuan dari kelompok sosial. Dalam dimensi sosial, memungkinkan individu untuk bekerja sama dalam menganalisis situasi sosial, terutama antar masalah pribadi, dan dalam mengembangkan cara-cara yang layak dan demokratis untuk mengatasi situasi ini. Kami telah menempatkan model bermain peran dalam keluarga sosial karena kelompok sosial memainkan peran seperti yang diperlukan, karena kesempatan pengembangan pribadi manusia  penting dan unik yang menawarkan permainan peran untuk menyelesaikan dilema interpersonal dan sosial.[13]

Shaftel mengungkapkan bahwa bermain peran ini sebagai model pembelajaran yang berpusat pada dimensi pendidikan, model ini semaksimal mungkin membantu peserta didik untuk menemui makna diri atau jati dirinya. Dalam dimensi sosial siswa dapat berdiskusi dan menganalisa situasi sosial terutama antar masalah pribadi mereka, dengan demikian model bermain peran ini sangat baik sekali diterapkan untuk menggali lebih jauh potensi apa yang sebenarnya yang ada dalam diri peserta didik itu, serta permasalahan apa yang sebenarnya dialami oleh siswa yang dapat dijadikan dasar bagi seorang guru untuk mencapai tujuan pendidikan.

Bruce Joyce Marsha Weil dalam bukunya Models Of Teaching mengungkapkan bahwa esensi atau inti sari dari model pembelajaran bermain peran adalah:

The essence of role playing is the involvement of participants and observers in a real problem situation and the desire for resolution and understanding that this involvement engenders. The role-playing process provides a live sample of human behavior that serves as a vehicle for students to: (1) explore their feelings; (2) gain insight into their attitudes, values, and perceptions; (3) develop their problem-solving skills and attitudes; and (4) explore subject matter in varied ways. Inti dari permainan peran adalah keterlibatan peserta dan pengamat dalam situasi masalah yang nyata dan keinginan untuk resolusi dan pemahaman yang menimbulkan keterlibatan ini. Proses role-playing menyediakan contoh hidup dari perilaku manusia yang berfungsi sebagai wahana bagi siswa untuk: (1) mengeksplorasi perasaan mereka, (2) mendapatkan informasi tentang sikap, nilai-nilai, dan persepsi, mereka (3) mengembangkan keterampilan dan sikap dalam pemecahan masalah mereka, dan (4) mengeksplorasi materi pelajaran dengan cara yang bervariasi.[14]


Sebagai sebuah kesimpulan, dimana hakikat atau intisari dari model bermain peran ini adalah terletak pada keterlibatan peserta didik dan pengamat dalam situasi permasalahan yang nyata, dan keterlibatan tersebut akan membuat personal menjadi paham akan permasalahan yang akan diungkapkan. Seperti dengan bermain peran yang menyediakan contoh hidup dari prilaku manusia (tampilan berbagai ekspresi dari tokoh yang diperankan) dapat berfungsi sebagai sarana bagi siswa untuk mewujudkan perasaan mereka, mendapatkan informasi tentang sikap, nilai-nilai dan persepsi mereka, serta dapat mengembangkan keterampilan dalam pemecahan masalah mereka, dan tidak kalah pentingnya adalah dapat mengekplorasi  (menyampaikan) materi pelajaran dengan cara yang berpariasi.

Prosedur atau Hakikat Model Pembelajaran Bermain Peran

The Shaftels suggest that the role-playing activity consist of nine steps: (1) warm up the group, (2) select participants, (3) set the stage, (4) prepare observers, (5) enact, (6) discuss and evaluate, (7) reenact, (8) discuss and evaluate, and (9) share experiences and generalize Menurut Shaftel (1967), Shaftels menunjukkan bahwa aktivitas bermain peran terdiri dari sembilan langkah: (1) pemanasan kelompok, (2) memilih peserta, (3) mengatur panggung, (4) menyiapkan pengamat, (5) memberlakukan, (6) mendiskusikan dan mengevaluasi, (7) menghidupkan kembali, (8) membahas dan mengevaluasi, dan (9) berbagi pengalaman dan generalisasi.[15]
Hamzah Uno dalam bukunya Model Pembelajaran menjelaskan satu persatu tentang 9 prosedur Model Pembelajaran Bermain Peran yang diungkapkan oleh Shaftel di atas sebagai berikut:
Pertama, pemanasan. Guru berupaya memperkenalkan siswa pada permasalahan yang mereka sadari sebagai suatu hal yang bagi semua orang perlu mempelajari dan menguasainya. Selanjutnya menggambarkan permasalahan dengan jelas disertai contoh. Hal ini bisa dari imajinasi siswa atau sengaja sudah dipersiapkan oleh guru. Contoh, guru menyediakan suatu cerita untuk dibacakan di depan kelas. Pembacaan cerita berhenti jika cerita sudah menjadi jelas. Kemudian dilanjutkan dengan pengajuan pertanyaan oleh guru yang membuat siswa berfikir tentang hal tersebut dan memprediksi akhir dari cerita.
Langkah kedua, memilih pemain (partisipan). Siswa dan guru membahas karakter dari setiap pemain dan menentukan siapa yang akan memainkannya.Dalam pemilihan pemain ini bisa dilakukan oleh guru atau siswa sendiri yang menetapkan siapa yang akan memainkan peran siapa dalam ide cerita yang akan dimainkan. Menyerahkan kepada siswa untuk menentukan peran masing-masing adalah lebih baik, namun jika siswa fasif dan tidak mau memerankan sebagai siapa saja barulah guru yang menetapkannya.Contoh seorang guru menunjuk siswa untuk berperan sebagai seorang ayah yang galah dan berkumis tebal, guru menunjuk seorang anak untuk memerankan seperti ilustrasi di atas.
Langkah ketiga menata panggung. Dalam hal ini guru mendiskusikan dengan siswa dimana dan bagaimana peran itu akan dimainkan. Apa saja kebutuhan yang diperlukan. Penata panggung ini dapat sederhana atau kompleks. Yang paling sederhana adalah hanya membahas sekenario (tanpa dialok lengkap) yang menggambarkan urutan permainan peran. Misalnya siapa dulu yang muncul, kemudian diikuti oleh siapa, dan seterusnya. Sementara penataan panggung yang lebih kompleks meliputi aksesoris lain seperti kostum dan lain-lain. Konsep sederhana memungkinkan untuk dilakukan karena intinya bukan kemewahan panggung, tetapi proses bermain peran itu sendiri.
Langkah keempat, menyiapkan pengamat. Guru menunjuk beberapa siswa sebagai pengamat namun demikian, penting untuk dicatat bahwa pengamatan disini harus juga terlibat aktif dalam permainan peran. Untuk itu, walaupun mereka ditugaskan sebagai pengamat, guru sebaiknya memberikan tugas peran terhadap mereka agar dapat terlibat aktif dalam permainan peran tersebut.
Langkah kelima, memberlakukan ( Permainan peran dimulai). Permainan peran dilaksanakan secara sepontan. Pada awalnya akan banyak siswa yang masih bingung memainkan atau bahkan tidak sesuai dengan peran yang seharusnya ia lakukan. Bahkan, mingkin ada yang memaikan peran yang bukan perannya. Jika permainan peran sudah terlalu jauh keluar jalur, guru dapat menghentikannya untuk segera masuk kelangkah berikutnya.
Langkah keenam, diskusi dan evaluasi. Guru bersama siswa mendiskusikan permainan tadi dan melakukan evaluasi terhadap peran-peran yang dilakukan. Usulan perbaikan akan muncul. Mungkin ada siswa yang meminta untuk berganti peran. Atau bahkan alur ceritanya akan sedikit berubah. Apapun hasil diskusi dan evaluasi tidak jadi masalah. Setelah diskusi dan evaluasi selesai, dilanjutkan kelangkah ketujuh, yaitu permainan peran ulang. Seharusnya, pada permainan peran kedua yang akan berjalan lebih baik. Siswa dapat memainkan perannya lebih sesuai dengan sekenario. Dalam diskusi dan evaluasi pada langkah kedelapan, pembahasan diskusi dan evaluasi lebih diarahkan pada realitas. Mengapa demikian karena pada saat permainan peran dilakukan, banyak peran yang melampaui batas kenyataan. Misalnya seorang siswa memainkan peran sebagai pembeli. Dia membeli barang lain, seorang siswa memerankan peran orang tua yang galak. Kegalakan yang dilakukan orang tua ini dapat dijadikan bahan diskusi. Pada langkah kesembilan, siswa diajak untuk berbagi pengalaman tentang tema permainan yang telah dilakukan dan dilanjutkan dengan membuat kesimpulan. Misalnya siswa akan berbagi pengalaman tentang bagaimana ia dimarahi habis-habisan oleh ayahnya. Kemudian guru membahas bagaimana sebaiknya siswa menghadapi situasi tersebut. Seandainya jadi ayah dari siswa tersebut, sikap yang seperti apa yang sebaiknya dilakukan. Dengan cara ini, siswa akan belajar tentang kehidupan.
Aplikasinya bahwa model bermain peran ini sangat fleksibel dan berlaku untuk beberapa hal penting berhubungan dengan tujuan pendidikan. Melalui peran playihg, siswa dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk mengenali mereka sendiri dan perasaan orang lain, mereka dapat memperoleh perilaku baru untuk menangani situasi yang sebelumnya sulit, dan mereka dapat meningkatkan keterampilan pemecahan masalah mereka. Selain banyak kegunaan, model role-playing ini juga menyertakan serangkaian kegiatan yang menarik. Karena siswa menikmati tindakan akting, lalu mudah untuk melupakan peran bermain sendiri dan akting itu merupakan cara untuk mengembangkan isi instruksi. Tahapan model tidak berakhir dalam diri mereka, tetapi mereka membantu mengekspos nilai siswa, tentang perasaan, sikap, dan solusi masalah, yang guru kemudian harus dapat menanggapinya.[16]

Model Pembelajaran Simulasi Sosial
Pengertian

Model ini dipelopori oleh Sarene Boocock dan Harold Guetzkow. Model simulasi bukan berasal dari disiplin ilmu pendidikan, tetapi merupakan penerapan dari prinsip sibernetik, suatu cabang dari psikologi sibernetik yaitu suatu studi perbandingan antara mekanisme kontrol manusia dengan sistem elektromekanik seperti komputer.
Jadi, ahli sibernetik menginterpretasikan manusia sebagai suatu sistem kontrol yang dapat mengarahkan tindakannya dan memperbaiki tindakannya dengan mendasarkan pada umpan balik. Dengan demikian, belajar dalam konteks sibernetik merupakan proses mengalami konsekuensi lingkungan secara sensorik dan melibatkan perilaku koreksi diri (self corrective behavior). Oleh karena itu, pembelajaran harus didesain sedemikian rupa sehingga tercipta suatu lingkungan yang dapat menghasilkan umpan balik yang optimal bagi siswa.[17] Smith mengungkapkan:

As a discipline, cybernetics "has been described as the comparative study of the human (or biological) control mechanism,and electromechanical systems such as computers" The central focus is the apparent similarity between the feedback control mechanisms of electromechanical systems and human systems: A feedback control system incorporates three primary functions: it generates movement of the system toward a target or defined path; it compares the effects of this action with the true path and detects error; and it utilizes this error signal to redirect the system Sebagai suatu disiplin, cybernetics "telah digambarkan sebagai studi perbandingan mekanisme kontrol manusia (atau biologis), dan sistem elektromekanis seperti komputer". Fokus utama adalah kesamaan jelas antara mekanisme kontrol umpan balik dari sistem elektromekanis dan sistem manusia: Sebuah sistem kontrol umpan balik menggabungkan tiga[18] fungsi utama: menghasilkan gerakan sistem menuju target atau jalan yang ditetapkan, itu membandingkan efek dari tindakan ini dengan jalan yang benar dan mendeteksi kesalahan, dan ini menggunakan sinyal error (kesalahan) untuk mengarahkan sistem.[19]

Model pembelajaran simulasi sosial merupakan aplikasi dari prinsip-prinsip cybernetic (cabang dari psikologi). Psikologi cybernetic menganalogikan manusia sebagai suatu sistem kontrol yang menggerakkan jalannya tindakan dan membenarkan arah atau mengoreksi tindakan tersebut dengan pengertian umpan balik. Menurut psikologi cybernetic, tingkah laku manusia mencakup pola gerak yang dapat diamati baik berupa tingkah laku tak tampak seperti pikiran maupun tingkah laku tampak. Pada bermacam-macam situasi yang diberikan, individu memodifikasi tingkah laku sesuai dengan umpan balik yang mereka terima dari lingkungannya.
Esensi psikologi cybernetic adalah prinsip umpan balik yang berorientasi pada pendirian individual yang dirasakan merupakan dampak yang ditimbulkan dari keputusannya sendiri dan merupakan dasar untuk memperbaiki diri. Individu dapat merasakan pengaruh dari ketetapan yang diambilnya akibat dari pemenuhan kebutuhan lingkungan dari pada hanya mengatakan bahwa itu benar atau salah dan coba lagi. Hal ini merupakan konsekuansi lingkungan dari pilihannya yang dikembalikan kepadanya. Belajar dalam pengertian cybernetic adalah penginderaan tingkah laku individu yang mempunyai akibat pada lingkungan serta perbaikan diri. Pengajaran dalam pengertian sybernetic dirancang untuk menciptakan lingkungan bagi siswa dengan sitem umpan balik.
 Para ahli psikologi cybernetic menemukan bahwa simulasi pendidikan memungkinkan siswa belajar untuk pertama kalinya dari pengalaman yang disimulasikan dalam pembelajaran dari pada yang dijelaskan guru. Bagaimanapun juga besarnya ketertiban keterlibatan siswa, mungkin siswa masi belum siap mempelajari memahami apa yang mereka pelajari atau yang mereka almi. Dengan demikian, guru memegang peranan penting dalam menumbuhnkan kesadarab siswa tentang konsep dan prinsi-prinsip pendukung simulasi dan reaksi-reaksinya. Selain itu guru berperan sebagai pelaku fungsi pengatur. Dengan isu-isu dan permainan yang lebih komplek di dalam pembelajaran maka kegiatan guru lebih kritis.
Dengan demikian dalam menggunakan analogi sistem mekanik sebagai kerangka acuan untuk menganalisis manusia, psikolog datang dengan ide sentral "bahwa kinerja dan pembelajaran harus dianalisis dalam hal hubungan kontrol antara operator manusia dan situasi instrumental. "Artinya, belajar dipahami akan ditentukan oleh sifat individu, serta dengan desain situasi belajar.[20]
Jadi simulator adalah suatu alat yang merepresentasikan realitas, dimana kerumitas aktifitasnya dapat dikendalikan. Contoh simulator pilot pesawat terbang, simulator pengendara mobil dan lain-lain.[21] Aplikasinya bahwa simulasi dapat merangsang suatu pembelajaran tentang: (1) kompetisi, (2) kerjasama, (3) empati, (4) sistem sosial, (5) konsep, (6) keterampilan, (7) efikasi, (8) membayar hukuman, (9) peran kesempatan, dan (10) kemampuan untuk berpikir kritis (memeriksa strategi alternatif dan mengantisipasi orang lain) dan membuat keputusan.[22] Setelah mengetahui dan memahami alur model pembelajaran ini secara umum maka dirasa perlu membahas tentang prosedur atau hakikat model pembelajaran simulasi dalam proses pembelajaran.

Prosedur atau Hakikat Model Pembelajaran Simulasi Sosial

Sangat mudah untuk mengasumsikan bahwa karena kegiatan pembelajaran telah dirancang dan dikemas oleh para ahli, guru memiliki peran minimal untuk bermain dalam situasi belajar. Orang cenderung percaya bahwa permainan yang dirancang dengan baik akan mengajarkan sendiri. Tapi ini hanya sebagian benar. Psikolog Cybernetic menemukan bahwa simulasi pendidikan memungkinkan siswa untuk belajar langsung dari pengalaman simulasi dibangun ke dalam permainan dan bukan dari penjelasan atau ceramah guru. Namun, karena keterlibatan intens mereka, siswa mungkin tidak selalu menyadari apa yang mereka pelajari dan alami. Dengan demikian guru memiliki peran penting untuk bermain dalam meningkatkan kesadaran siswa tentang konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang mendasari simulasi dan reaksi mereka sendiri. Selain itu, guru memiliki fungsi manajerial yang penting. Dengan permainan (game) yang lebih kompleks dan isu-isu, bahkan kegiatan guru adalah lebih penting jika terjadi untuk belajar. Bruce Joyce Marsha Weil mengidentifikasi empat peran guru dalam model simulasi yaitu: (1) menjelaskan (explaining) (2) mewasiti (refereeing), (3) melatih (coaching), dan (4) diskusi (Discussing).[23]
Menjelaskan (explaining). Untuk belajar dari simulasi, para pemain perlu memahami aturan-aturan yang cukup untuk melaksanakan sebagian besar kegiatan. Namun, tidak penting bahwa siswa memiliki pemahaman yang lengkap dari simulasi di awal. Seperti dalam kehidupan nyata, banyak aturan menjadi relevan hanya sebagai kegiatan dilanjutkan.
Wasit (refereeing). Simulasi digunakan di dalam kelas yang dirancang untuk memberikan manfaat pendidikan. Guru harus mengontrol partisipasi siswa dalam permainan untuk memastikan bahwa simulasi ada manfaatnya dilakukan. Sebelum permainan ini dimainkan, guru harus menetapkan siswa untuk tim (jika permainan melibatkan teamwork), sesuai kemampuan individu dengan peran dalam simulasi untuk menjamin partisipasi aktif seluruh siswa. Siswa pemalu dan tegas, misalnya, harus dicampur dalam satu tim. Salah satu hal yang harus dihindari guru adalah hanya mengutamakan siswa yang aktif saja dan mengabaikan siswa yang fasif atau tidak memiliki pengetahuan akademis. Guru harus menyadari terlebih dahulu situasi simulasi pembelajaran aktif dan dengan demikian meminta kepada siswa untuk bebas berekspresi dan bebas serta aktif bicara dibanding dari kegiatan kelas lainnya. Guru harus bertindak sebagai wasit yang melihat aturan-aturan permainan dan lebih baik guru tidak terlibat dalam simulasi.
Melatih (coaching). Guru harus bertindak sebagai pelatih bila perlu memberikan nasihat atau petunjuk pemainan agar siswa bermain lebih baik. Sebagai seorang pelatih hendaknya bertindak sebagai seorang supervisor yang sportif bukan sebagai seorang yang otoriter. Dalam simulasi, pemain mungkin memiliki kesalahan-kesalah dan mengandung beberapa resiko dan guru dalam hal ini harus bersifat adil tidak memihak.
Mendiskusikan (Discussing). Setelah sesi simulasi selesai perlu ada diskusi, membisarakan bagaimana permainan simulasi dinyatakan dalam kehidupan sebenarnya, bagaimana tanggapan siswa, apa kesulitan-kesulitan yang dijumpai, dan hubungan apa yang dapat diungkapkan antara simulasi dan bahan yang dimaksudkan dalam simulasi yang dilaksanakan. Mungkin juga kelas mempunyai cara-cara yang baik untuk menguji kebenaran simulasi yang telah dilakukan.

Dalam pelaksanaannya model simulasi sosial sebagaimana dikemukakan oleh Joyce dan Weil (1986) mempunyai empat tahapan yaitu (1) orientasi), (2) partisipasi dalam latihan, (3) simulasi dan (4) pemantapan. Berikut tabel tahapan pelaksanaan model pembelajaran simulasi sosial.[24]
Tabel  Tahapan Model Pembelajaran Simulasi Sosial

NO
TAHAPAN
1
Orientasi:
1.      Menjelaskan pokok-pokok dari tema simulasi dan konsep yang akan dituangkan dalam simulasi yang akan ditangani
2.      Memberi contoh dalam simulasi dan permainan.
3.      Memberikan penjelasan awal.

2
Partisipasi dalam latihan:
1.      Penerapan sekenario (peraturan-peraturan, prosedur, penilaian, tipe keputusan yang akan diambil).
2.      Menunjuk peranan.
3.      Meningkatkan sesi yang praktis.

3.
Pelaksanaan Simulasi:
1.      Melaksanakan kegiatan simulasi dan pengadministrasian pemain.
2.      Mendapatkan umpan balik dan evaluasi dari penampilan efek-efek keputusan, serta menjelaskan penyimpangan-penyimpangan konsep.
3.      Melanjutkan simulasi.

4.
Pemantapan:
1.      Menyimpulkan kejadian dan persepsi.
2.      Menyimpulkan kesukaran dan pengamatan.
3.      Proses analisa.
4.      Membandingkan kegiatan simulasi dengan dunia nyata.
5.      Menghubungkan kegiatan simulasi dengan isi pelajaran.
6.      Menilai dan merencanakan kembali simulasi.



Dua hal yang dapat diperoleh siswa dari penerapan model pembelajaran simulasi sosial. Pertama, pengalaman langsung yang diperoleh dari permainan simulasi dan yang kedua pengalaman lanjutan yang diperoleh dari kegiatan diskusi setelah sumulasi. Permulaan yang baik dalam berdiskusi adalah meminta siswa untuk mengevaluasi bagaimana pengalaman mereka dalam permainan serta membandingkannya dengan mereka yakni tentang kebenaran dalam dunia nyata.[25]
Model Pembelajaran Telaah Yurisprudensi (Jurisprudential Inquiry)

Pengertian

Donald Oliver dan James P. Shaver (1966/1974) menciptakan model penyelidikan yurisprudensi untuk membantu siswa belajar untuk berpikir secara sistematis tentang isu-isu kontemporer. Hal ini membutuhkan mereka untuk merumuskan masalah ini sebagai masalah kebijakan publik dan menganalisis posisi alternatif tentang mereka. Pada dasarnya, itu adalah model tingkat tinggi untuk pendidikan kewarganegaraan. Sebagai masyarakat kita mengalami perubahan budaya dan sosial, model penyelidikan yurisprudensi ini sangat berguna dalam membantu orang memikirkan kembali posisi mereka pada pertanyaan hukum, etika, dan sosial yang penting. Warga perlu memahami isu-isu kritis saat ini dan berbagi dalam perumusan kebijakan. Dengan memberi mereka alat untuk menganalisis dan memperdebatkan isu-isu sosial, pendekatan yurisprudensi membantu siswa dalam partisipasinya sebelum memberikan definisi atau rumusan yang tegas mengenai nilai-nilai sosial (Shaver, 1995).[26]
Model pembelajaran yang dipelopori oleh Donal Oliver dan James P. Shafer ini di dasarkan atas pemahaman masyarakat dimana setiap orang berbeda pandangan dan prioritas satu sama lain, dan nilai-nilai sosialnya saling berkonfrontasi satu sama lain. Memecahkan masalah kompleks dan kontropersial di dalam konteks aturan sosial yang produktif membutuhkan warga negara yang mampu berbicara satu sama lain dan bernegosiasi tentang keberadaan tersebut. Oleh karena itu, pendidikan harus mampu menghasilkan individu calon warga negara yang mampu membantu mengatasi konflik perbedaan dalam berbagai hal. Model pembelajaran ini membantu siswa untuk belajar berfikir secara sistematis tentang isu-isu kontemporer yang sedang terjadi dalam masyarakat. Dengan memberikan mereka cara-cara menganalisis dan mendiskusikan isu-isu sosial, model pembelajaran ini membantu untuk berpartisipasi dalam mendefinisikan ulang nilai-nilai sosial.[27]
Jadi, model pembelajaran telaah jurisprudensial melatih siswa untuk pekah terhadap permasalahan sosial, mengambil posisi (sikap) terhadap permasalahan tersebut, serta mempertahankan sikap tersebut dengan argumentasi yang relefan dan valid. Model ini juga dapat mengajarkan siswa untuk dapat menerima atau menghargai sikap orang lain terhadap suatu masalah yang mungkin bertentangan dengan sikap yang ada pada dirinya. Atau sebaliknya, ia bahkan menerima dan mengakui kebenaran sikap yang diambil orang lain terhadap suatu isu sosial tertentu. Sebagai contoh, seorang siswa mengambil sikap tidak setuju atas kenaikan harga bahan bakar minyak dengan berbagai argumentasi yang rasionalis dan logis. Tentunya yang mengambil sikap sebaliknya (setuju) juga dengan berbagai argumentasi yang logis dan rasional. Akhirnya, keduanya sama-sama dapat menganalisis kelebihan dan kelemahan dari masing-masing posisi (sikap) yang diambilnya. Sebaliknya, bisa saja teman yang setuju kenaikan BBM akan berubah sikapnya jadi tidak setuju setelah mendengar argumentasi dari temannya yang lain yang menurutnya lebih baik, lebih rasional, dan yang lebih mempunyai implikasi yang positif terhadap masyarakat.[28]

Prosedur Pembelajaran Model Jurisprudensi

Meskipun perwujudan sikap siswa melalui dialog konfrontatif adalah jantung dari model penyelidikan yurisprudensi, namun beberapa kegiatan lainnya sangat penting, seperti membantu siswa merumuskan sikap (posisi) mereka, hal ini juga dapat membantu merevisi posisi mereka setelah mereka berargumentasi. Seperti yang dikemukakan oleh Bruce Joyce Marsha Weil tentang model dasarnya meliputi enam tahap:

The basic model includes six phases: (1) orientation to the case; (2) identifying the issues; (3) taking positions; (4) exploring the stances underlying the positions taken; (5) refining and qualifying positions; and (6) testing assumptions about facts, definitions, and consequences, model dasarnya meliputi enam tahap (1) orientasi kasus, (2) mengidentifikasi masalah, (3) mengambil posisi, (4) yang menjelajahi sikap yang mendasari posisi yang diambil, (5) memperbaiki dan posisi kualifikasi, dan (6 ) pengujian asumsi tentang fakta, definisi, dan konsekuensi.[29]

Pada tahap pertama, guru memperkenalkan kepada siswa materi-materi kasus dengan cara membaca cerita, menonton film yang menggambarkan konflik nilai, atau mendiskusikan kejadian-kejadian hangat dalam kehidupan sekitar, kehidupan sekolah atau sesuatu kemunitas masyarakat. Langkah kedua yang termasuk ke dalam tahap orientasi adalah mengkaji ulang fakta-fakta dengan menggambarkan peristiwa dalam kasus, menganalisis siapa yang melakukan apa, dan mengapa terjadi seperti demikian.
Pada tahap kedua, siswa mensistesis fakta, mengaikannya dengan isu-isu umum dan mengidentifikasi nilai-nilai yang terlibat dalam kasus tersebut (misalnya, isu tersebut berkaitan dengan kebebasan mengemukakan pendapat, otonomi daerah, persamaan hak, dan lain-lain). Dalam tahap satu dan dua ini siswa belum diminta untuk mengekpresikan pendapat atau sikapnya terhadap kasus tersebut. Pada tahap ketiga, siswa diminta untuk mengambil posisi  (sikap atau pendapat) terhadap isu tersebut dan menyatakan sikapnya. Misalnya dalam kasus bayaran uang sekolah, siswa mennyatakan sikapnya bahwa seharusnya pemerintah tidak menentukan besarnya biaya sekolah yang harus diberlakukan untuk setiap sekolah karena hal itu melanggar hak otonomi sekolah.
Pada tahap keempat, sikap (posisi atau pendapat) siswa digali lebih dalam. Guru sekarang memainkan peran ala sokrates. Memperdebatkan pendapat yang diajukan siswa dengan pendapat-pendapat konprontatif. Dalam hal ini siswa diuji konsistensi dalam mempertahankan sikap atau pendapat yang telah diambilnya. Disini siswa dituntut untuk mengajukan argumentasi logis dan rasional yang dapat mendukung pernyataan (posisi) yang telah dibuatbya.
Tahap kelima adalah tahap penentuan ulang akan posisi (sikap) yang telah diambil siswa. Dalam tahap ini sikap (posisi) yang telah diambil siswa mungkin konsisten (tetap bertahan) atau berubah (tidak konsisten), tergantung dari hasil atau argumentasi yang terjadi pada tahap keempat. Jika argumen siswa kuat, mungkin konsisten. Jika tidak, mungkin siswa mengubah sikapnya (posisinya).
Tahap keenam adalah pengujian asumsi faktual yang mendasari sikap yang diambil siswa. Dalam tahap ini guru mendiskusikan apakah argumentasi yang digunakan untuk mendukung pernyataan sikap tersebut relevan dan syah (valid).[30]
Jadi model pembelajaran yurisprudensi ini menekankan pada argumentasi yang dikemukakan oleh siswa terhadap pandangannya akan penomena yang sedang terjadi dimasyarakat dengan mendahulukan pemikiran dan akal atau rasionalitas yang benar, sesuai dengan disiplin ilmu atau hiukum-hukum yang berlaku. Dengan demikian model pembelajaran ini sangat baik sekali melatih pemikiran dan keberanian siswa dalam mengungkapkan pendapatnya untuk meyakini lawan bicaranya. Dalam pemebelajar agama Islam guru bisa mencetak seorang da’i yang baik.

Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: Pertama, model bermain peran sebagai suatu model pembelajaran bertujuan untuk membantu siswa menemui makna diri (jati diri) di dalam lingkungan sosial dan memecahkan dilema dengan bantuan kelompok. Artinya, melalui permainan peran siswa dapat belajar menggunakan konsep peran, menyadari adanya peran-peran yang berbeda dan memikirkan prilaku dirinya dan prilaku orang lain. Kedua model permainan sismulasi dapat merangsang berbagai bentuk belajar, seperti belajar tentang persaingan (kompetisi), kerjasama, empati, sistem sosial, konsep, keterampilan, kemampuan berfikir kritis, pengambilan keputusan, dan lain-lain. Ketiga model pembelajaran yurisprudensi ditujukan untuk membantu siswa belajar berfikir secara sistematis tentang isu-isu yang sedang terjadi di masyarakat.

Daftar Pustaka

Bruce Joyce Marsha Weil, 2003, Models Of Teaching, Prentice.HaII of India New Private Limited.
Bruce Joyce Marsha Weil. 1980. Model of teaching. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Burden, P. R., & Byrd, D. M. 1996. Method for effective teaching, second edition. Boston: Allyn and Bacon
Chesler, M., & Fox, R. (1966). Role-playing methods in the classroom. Chicago: Science Research Associates.
Dahlan. M. D, 1984, Model-model dalam Mengajar, Bandung: Diponegoro. .
Daryanto S.S, 1997, Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, Surabaya: Apollo.
Elizabeth B Hurlock, 1978, Perkembangan Anak, (terj.Med Meitasari Tjandrasa & Muslichah Zarkasi), Jakarta: Glora Aksara Pratama.
Gunter, M. A., Estes, T. H., & Schwab, J. H. 1990. Instruction: A models approach.
Boston: Allyn and Bacon
Hamza B. Uno, 2012, Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif, Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Mulyasa, E. 2004. Implementasi Kurikulum 2004: Panduan Pembelajaran KBK. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nesbitt, W. A. (1971). Simulation games for the social studies classroom. New York: Foreign Policy Association. Hal. 35
Shaftel, F. & Shaftel, G. (1967). Role playing of social values: Decision making in the social studies. Englewood Cliffs, N.J.: Prentie-Hall.
Smith, K., & Smith, M. (1966). Cybernetic principles of learning and educational design. New York: Holt, Rinehart, & Winston.
27-04-2012



[1] Gunter, M. A., Estes, T. H., & Schwab, J. H. 1990. Instruction: A models approach.
Boston: Allyn and Bacon. Hal. 67
[2] Joyce, B., & Weil, M. 1980. Model of teaching. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
[3] Burden, P. R., & Byrd, D. M. 1996. Method for effective teaching, second edition. Boston: Allyn and Bacon. Hal. 85
[4] Hamza B. Uno, 2012, Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif, Jakarta: PT. Bumi Aksara, hal 25
[5] Elizabeth B Hurlock, 1978, Perkembangan Anak, (terj.Med Meitasari Tjandrasa & Muslichah Zarkasi), Jakarta: Glora Aksara Pratama, hal. 256.
[6] Ibid.
[7] Hamza B. Uno, Ibid., hal. 26
[8] http://wyw1d.wordpress.com/2009/11/30/model-pembelajaran-bermain-peran/27-04-2012
[9] Chesler, M., & Fox, R. (1966). Role-playing methods in the classroom. Chicago: Science Research Associates. hlm 5, 8
[10] Analogi dalam ilmu bahasa adalah persamaan antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya bentuk-bentuk yang lain. Analogi merupakan salah satu proses morfologi dimana dalam analogi, pembentukan kata baru dari kata yang telah ada. Contohnya pada kata dewa-dewi, putra-putri, pemuda-pemudi, dan karyawan-karyawati. http://id.wikipedia.org/wiki/Analogi. Persesuaian antara dua benda yang berlainan (Daryanto S.S, 1997, Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, Surabaya: Apollo, hal. 40.
[11] Mulyasa, E. 2004. Implementasi Kurikulum 2004: Panduan Pembelajaran KBK. Bandung: Remaja Rosdakarya, hal. 141.
[12] Shaftel, F. & Shaftel, G. (1967). Role playing of social values: Decision making in the social studies. Englewood Cliffs, N.J.: Prentie-Hall, hal. 91
[13] Shaftel, F. & Shaftel, G. Ibid., hal. 91
[14] Bruce Joyce Marsha Weil, 2003, Models Of Teaching, Prentice.HaII of India New Private Limited, hal. 92
[15] Bruce Joyce Marsha Weil, Ibid, hal. 94
[16] Bruce Joyce Marsha Weil, Ibid, hal. 102
[17] Hamza B. Uno, 2012, Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif, Jakarta: PT. Bumi Aksara, hal. 27
[18] 1) menghasilkan gerakan atau tindakan sistem terhadap target yang diinginkan (untuk mencapai tujuan tertentu yang diinginkan), (2) membandingkan dampak dari tindakannya tersebut apakah sesuai atau tidak dengan jalur rencana yang seharusnya (mendeteksi kesalahan), dan (3) memanfaatkan kesalahan (error) untuk mengarahkan kembali ke arah atau jalur yang seharusnya.
[19] Smith, K., & Smith, M. (1966). Cybernetic principles of learning and educational design. New York: Holt, Rinehart, & Winston. Hal. 203
[20] Bruce Joyce Marsha Weil, Op. Cit., hal. 356
[21] Hamza B. Uno, Op. Cit., hal. 29
[22] Nesbitt, W. A. (1971). Simulation games for the social studies classroom. New York: Foreign Policy Association. Hal. 35
[23] Bruce Joyce Marsha Weil, Op. Cit., hal. 359

[24] Bruce Joyce Marsha Weil, Op. Cit., hal. 360
[25] Dahlan. M. D, 1984, Model-model dalam Mengajar, Bandung: Diponegoro.
[26] Bruce Joyce Marsha Weil, Op. Cit., hal. 110
[27] Hamza B. Uno, Op. Cit., hal. 31-32

[28] Hamza B. Uno, Ibid., hal. 31-32
[29] Bruce Joyce Marsha Weil,Ibid., hal. 120

[30] Hamza B. Uno, Op. Cit., hal. 31-32